SULUT, citawaya.id – Isu pergantian Ketua Umum Partai Golkar kembali mencuat. Sejumlah pakar politik menilai posisi Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum Golkar semakin terancam menyusul dinamika internal partai beringin.
Pengamat politik Jerry Masie menilai, sinyal ketidakharmonisan mulai terlihat saat Bahlil mendampingi Presiden terpilih Prabowo Subianto dalam kunjungan luar negeri beberapa waktu lalu. Dalam momen tersebut, Prabowo disebut enggan bersalaman dengan Bahlil. Sikap ini dinilai sebagai simbol menurunnya hubungan keduanya.
“Bahlil dinilai lebih loyal kepada Presiden Jokowi dibanding kepada Prabowo. Hal ini membuat sebagian kader senior Golkar tidak nyaman,” ujar Jerry.
Sumber internal yang tidak ingin menyebut namanya, sejumlah tokoh senior Golkar seperti Agung Laksono, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, dan Akbar Tanjung dikabarkan telah memberikan sinyal dukungan untuk percepatan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub). Tujuannya, menentukan kepemimpinan baru sebelum Pemilu 2029.
“Jika Munaslub jadi digelar, kemungkinan besar akan dilakukan dalam waktu dekat. Kekhawatiran sebagian tokoh senior adalah jika Bahlil tetap memimpin, hal ini dapat menjadi batu sandungan bagi konsolidasi partai menuju 2029,” kata sumber tersebut.
Bahlil sendiri diangkat sebagai Ketua Umum Partai Golkar menggantikan Airlangga Hartarto melalui mekanisme yang dinilai sejumlah pihak belum sepenuhnya sesuai prosedur biasa, karena terjadi lebih cepat dari jadwal Munas yang semula direncanakan Desember lalu.
Sejak menjabat, kepemimpinan Bahlil menuai sorotan dari sejumlah kalangan internal. Beberapa senior Golkar menilai kualitas kepemimpinan Bahlil belum sebanding dengan ketua umum sebelumnya. (*/CM)







Comment