by

Makin Disorot SPBU Tababo Terus Berulah, Solar dan Pertalite Jadi Langkah

MITRA – Dugaan praktik penyelewengan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kembali mencuat di Sulawesi Utara. Kali ini, sorotan tajam publik mengarah ke SPBU 74.956.03 yang berlokasi di Desa Tababo, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra). SPBU tersebut diduga kuat menjadi titik rawan permainan mafia solar subsidi dan pertalite akibatnya SPBU tersebut sering di beritakan melakukan dugaan aktivitas ilegal walaupun lokasinya berdekatan dengan Polsek Belang

Keanehan mencolok terlihat dari kondisi lapangan. Di Kecamatan Belang, jumlah kendaraan berbahan bakar solar tergolong sedikit. Antrean kendaraan di SPBU pun terpantau tidak panjang. Namun ironisnya, stok solar subsidi di SPBU Tababo kerap cepat habis, bahkan dalam waktu singkat. Fakta ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Bahkan beredar kabar ada mafia BBM bernama Alfa yang setiap ada solar langsung antri menyedot BBM.

“Kalau dilihat, kendaraan solar di Belang tidak banyak. Antrean juga cuma sedikit, tapi solar dan pertalite cepat sekali habis. Ini jelas tidak masuk akal,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Adapun seorang wargs lain mengungksp bahwa Barcode yang di pakai diduga sering salah gunakan, Kuota terlampaui selain persoalan stok yang cepat habis, muncul dugaan serius terkait penyalahgunaan barcode MyPertamina. Berdasarkan aturan, kendaraan roda empat berbahan bakar solar memiliki jatah maksimal 60 liter per hari. Namun di SPBU Tababo, diduga terdapat kendaraan tertentu yang justru mengisi ratusan liter dalam sehari menggunakan barcode yang sama.

“Kami lihat sendiri, ada mobil yang bolak-balik isi solar. Kalau dihitung, jelas sudah lebih dari kuota. Barcode seolah bebas dipakai,” ujar sumber di lapangan.
Kondisi ini memunculkan dugaan adanya pembiaran atau kerja sama oknum, baik dari pengelola SPBU maupun pihak lain, sehingga praktik pengisian di luar ketentuan dapat berlangsung tanpa hambatan.

“Kami pernah melihat ada mobil yang mengisi solar dengan tangki modifikasi dan pengisian berulang menguras jatah solar yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kecil, nelayan, petani, dan sopir angkutan. Namun kami tidak berani bicara karena takut tidak diberikan BBM,” ungkap seorang warga lain

Seorang sopir dump truck mengaku sering dirugikan akibat praktik tersebut. “Kami antre sesuai aturan, tapi sering kehabisan solar. Diduga solar sudah disedot duluan oleh kendaraan tertentu seperti milik boss Alfa kami yang kerja cari makan jadi korban,” keluhnya.

Situasi ini memicu kemarahan dan kecurigaan publik. Masyarakat mempertanyakan pengawasan Pertamina, BPH Migas, serta aparat penegak hukum yang dinilai lemah. SPBU Tababo bahkan disebut-sebut “kebal hukum” karena dugaan pelanggaran ini sudah lama terjadi namun belum tersentuh penindakan tegas.

Adanya dugaan tersebut masyarakat meminta Pertamina dan BPH Migas segera melakukan audit menyeluruh terhadap distribusi solar di SPBU 74.956.03.
Aparat penegak hukum mengusut dugaan mafia solar, penyalahgunaan barcode, serta penggunaan tangki modifikasi.

Sanksi tegas diberikan jika terbukti ada pelanggaran, termasuk pencabutan izin operasional SPBU. Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola SPBU Tababo belum memberikan klarifikasi resmi. Awak media menegaskan akan terus menelusuri dugaan penyelewengan BBM subsidi ini demi menjaga hak masyarakat dan keadilan distribusi energi. Sabtu 24/01/2026

***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *