MANADO, citawaya.id – Akibat tragedi Terbakarnya Kapal KM Barcelona V yang terjadi Minggu 20/7 di perairan Talise sekitar pukul 14.00 yang mengakibatkan 571 orang Korban, 3 orang Meninggal mendapat sorotan dari Masyarakat.
Aktivis Sulawesi Utara, Deddy Loing mengatakan bahwa “Manajemen Perusahaan dalam hal ini PT. Surya Pasifik Indonesia (SPI) selaku pengelola Kapal KM Barcelona dinilai hanya mencari keuntungan dalam bisnis perkapalan”,
Menurut Loing Hal tersebut di lihat dari pengoperasian kapal selalu melebihi kapasitas penumpang yang dibawah dan tidak memperhatikan Standard Keselamatan dari kapal tersebut. Dan menurut informasi kegiatan tersebut sudah berlangsung lama.
Berdasarkan sumber Dari Detik.com kapal KM Barcelona V memiliki kapasitas penumpang sebanyak 450 Orang sudah termasuk kru kapal, namun pada waktu kejadian kapal mengangkut 571 orang sedangkan Manifes pada saat itu hanya 280 orang yang diambil dari tiga pelabuhan yakni Beo, Melonguane dan Lirung.
Jumlah penumpang sudah melebihi kapasitas ditambahkan lagi manifes penumpang tidak sesuai dengan jumlah yang ada di dalam kapal, tentunya hal tersebut sangat menguntungkan pihak kapal.
Pihak Perusahaan sendiri Dilansir dari Detik.com Perwakilan Divisi Humas PT Surya Pasifik Indonesia, Ridwan Faluga membantah kalau perusahaan mencari keuntungan, Ridwan mengatakan bahwa perusahaan mengalami kerugian jika penumpang memang lebih dari daftar manifes. Dia juga menegaskan kapal tidak akan berlayar tanpa izin dari Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
Dalam kejadian tersebut juga publik menyoroti masalah keselamatan penumpang tersebut, hal tersebut terlihat saat kejadian berlangsung ada beberapa terlihat tidak menggunakan Jaket Pelampung, Life Raft (Perahu karet otomatis) dan bahkan Alat Pemadam Kebakaran tidak bisa digunakan lebih awal.
Beberapa standar keselamatan wajib di penuhi setiap kapal, kelebihan kapasitas penumpang mengakibatkan tidak semua mendapatkan Jaket Pelampung, Sedangkan Life Raft tidak digunakan untuk keselamatan penumpang, apakah perahu karet tersebut tidak berfungsi atau hanya dijadikan pajangan ini tentunya membuat publik bertanya.
Atas kejadian tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab Nahkoda Kapal akan tetapi menjadi tanggung jawab juga Pemilik Kapal dalam hal ini PT. Surya Pasifik Indonesia yang mengelola Perusahaan tersebut. (*/CM)







Comment